75% Rakyat Tak Mau Prabowo Jadi Presiden

Pagi ini saya baca berita bunyinya Badan Nasional Pemenangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno melalui Direktur Materi Debatnya, Sudirman Said, mengatakan kalau mereka menanggapi survey Polmark dengan kesimpulan 60 persen rakyat tidak mau punya Presiden Jokowi lagi,

Memangnya hasil survey Polmark ini adalah elektabilitas Joko Widodo-Ma’ruf Amin sebesar 40,4 persen di 73 dapil. Elektabilitas Prabowo 25,8 persen. Sedangkan undecided voters alias yang belum menentukan pilihan sebesar 33,8 persen.

Kalau Sudirman Said mengatakan bahwa cara membacanya sebagai 60 persen rakyat tidak menginginkan Jokowi jadi Presiden lagi berdasar survey Polmark, maka ijinkan saya juga mmebaca dengan cara 75 persen masyarakat NGGAK MAU punya Presiden Prabowo Subianto.

Lho kok bisa begitu? Ya bisa dong. Sudirman Said membaca hasil survey hanya dengan melihat angka berapa besar yang memilih Jokowi. Dia tidak melihat faktor lain. Saya pun juga demikian. Yang mau pilih Prabowo hanya 25 persenan, berarti sisanya yang 75 persen artinya nggak mau punya Presiden Prabowo. Bahkan angka pemilih Prabowo jauh lebih kecil dari undecided voters.

Undecided voters menurut saya akan terbagi dalam tiga kelompok :

1.Yang mutlak akan golput dan mereka ini biasanya keukeuh nggak mau memilih siapa-siapa dengan berbagai alasan

2.Yang sebenarnya sudah punya pilihan tapi tidak mau diutarakan sehingga yang seperti ini sebetulnya tidak perlu di-approach

3.Yang memang masih bingung mau memilih yang mana dan kelompok inilah yang memang diperebutkan. Cebong maupun kampret garis keras tidak akan berubah pendirian selama tidak ada isu yang membuat mereka putar haluan.

Angka golput tahun 2014 sebesar 24,89 persen. Anggap saja 25 persen supaya mudah. Bahkan angka golput ini nyaris sama dengan jumlah pemilih Prabowo-Sandi. Subhanallah!

Kalau versi Polmark ada 33,8 persen undecided voters kemudian 25 persen itu sejatinya golput dan tidak akan menggunakan hak suaranya maka ada sekitar 8 persen suara yang diperebutkan kubu Jokowi dan Prabowo. Katakanlah yang 4 persen lari ke Jokowi, 4 persen lari ke Prabowo maka Jokowi akan memperoleh suara 44,4 persen sementara Prabowo hanya 29,8 persen.

Kalau dengan hasil itu kemudian Sudirman Said mengklaim 56 persen orang tidak mau Jokowi jadi Presiden, ya kita balikkan saja dengan kenyataan 70 persen lebih orang tak merestui Prabowo-Sandi jadi Presiden dan Wakil Presiden. Memang cuma situ saja yang bisa memainkan narasi seperti ini? Nggak dikehendaki 70 persen orang itu menyakitkan lho! Artinya 2/3 penduduk nggak mau punya Presiden bernama Prabowo Subianto!

Sebagai informasi tambahan, survey Polmark ini adalah kerjasama dengan Partai Amanat Nasional (PAN). Polmark itu komandonya adalah Eep Saefulloh Fatah yang kita tahu sejak Pilkada DKI Jakarta membuat banyak orang geram. Kita semua juga tahu PAN ada di koalisi yang mendukung Prabowo-Sandi. Eep juga kabarnya masuk sebagai konsultan politik saat Anies-Sandi menang dalam Pilkada lalu.

Kalau dalam survey yang mana surveyornya adalah partai koalisi sendiri masa kubu Prabowo masih mau menyangkal? Ini belum lagi ditambah hasil survey bahwa hanya 68,8 persen pendukung Partai Gerindra yang akan memilih Prabowo. 11 persennya lagi malah memilih Jokowi-Ma’ruf dan 12 persennya masih bimbang. Bayangkan! Yang bimbang itu pun masih belum tentu memilih Prabowo, bisa jadi ada penyebaran suara 50;50 untuk Prabowo maupun Jokowi.

Partai Amanat Nasional saja yang diharapkan mampu menambah suara Prabowo-Sandi, hanya 49,2 persen pemilihnya yang memilih Prabowo. 25 persen malah mau memilih Jokowi-Ma’ruf dan 25,8 persen lagi masih bimbang. Bukan nggak mungkin nanti separuh pemilih PAN justru akan memilih Jokowi sebagai Presiden.

Bagaimana dengan PDI Perjuangan?Oh jelas jauh lebih mantap. 74, persen sudah pasti pilih Jokowi. Yang mau memilih Prabowo hanya 5,9 persen. Sisanya masih bimbang, tapi saya yakin mendekati pencoblosan maka setengah dari sisa 19,5 persen itu akan memilih Jokowi-Ma’ruf. Hanya sedikit yang mbalelo memilih Prabowo, beda dengan pendukung Gerindra maupun PAN yang ternyata banyak juga jadi pemilihnya Jokowi.

Pantas kalau BPN sekarang panas dan sampai mengeluarkan survey internal yang nggak jelas dan membuat seolah-olah Prabowo sudah mengungguli Jokowi. Ya gitu deh kampret.

TAG