Jokowi Pulang Kantor Naik KRL

Sosok Jokowi memang tidak pernah lepas dari kata “blusukan” dan juga “merakyat” yang banyak dituduhkan oleh oposisi sebagai pencitraan semata.

Namun, beberapa hari yang lalu, Jokowi ‘nekat’ menumpangi KRL tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, dan hanya ditemani oleh satu orang komandan Paspampres saja supaya tidak membuat ricuh.

Pencitraan? Risiko melakukan hal ini terlalu besar untuk dianggap pencitraan, dikarenakan sebagai seorang pemimpin negara yang tidak bisa dibilang tidak punya musuh, menaiki kendaraan umum seperti KRL ini bisa dibilang suatu pertaruhan nyawa yang tidak bisa dibayar bahkan dengan tambahan suara sekalipun pada pilpres.

Tetapi Jokowi tetap melakukan itu dengan alasan ingin merasakan bagaimana kondisi KRL saat jam pulang kantor, dan ingin melihat apakah ada perbaikan-perbaikan yang bisa ia lakukan kedepannya supaya para penumpang semakin nyaman.

Kebiasaan Jokowi sejak kecil adalah pulang bersama warga. Tapi saat ini, seharusnya Jokowi bisa menikmati segala privilege dan kenikmatan seorang pemimpin, memilih untuk tidak banyak menikmati itu. Jokowi lebih banyak ingin menghabiskan waktu bersama rakyatnya. Seperti apa yang ia kerjakan sehari-hari.

Pulang kerja, Jokowi desak-desakan bersama rakyatnya. Ini adalah pencitraan yang sangat baik. Patut ditiru oleh seluruh pemimpin dunia. Dunia melihat Jokowi, sebagai pemimpin yang bersih, merakyat dan memiliki etos kerja yang luar biasa.

Pulang ke rumah, berdesak-desakan bersama rakyat, adalah sebuah tindakan loncatan iman yang dilakukan oleh Jokowi. Ada siapa saja yang bisa mencelakakan Jokowi? Pasti ada orang-orang yang tidak suka dengan Jokowi. Tapi pada akhirnya, Jokowi percaya dengan segenap hatinya, rakyat menjadi pelindungnya.

Presiden yang melindungi rakyatnya selama ini, pasti akan mendapatkan timbal balik. Selama ini Jokowi melindungi rakyat dari pencurian uang. Uang rakyat dikelola dengan sangat baik dan sangat hati-hati. Maka rakyatnya akan melakukan timbal balik dan bersimbiosis mutualisme.

Kepercayaan rakyat terhadap Jokowi tumbuh kembang, karena Jokowi selama ini menunjukkan bahwa dirinya bisa dipercaya. Mengakui orang itu baik, satu hal. Akan tetapi mempercayai orang itu baik, adalah hal yang berbeda secara kualitas.

Pulang ke rumah bersama rakyat, menjadi sebuah tema hari ini. Kejadian-kejadian politik belakangan ini yang ada saat ini, membuat publik mulai bosan terhadap oposisi. Itu-itu saja. Kalau tidak hoax, bakar sekolah, narkoba, seks, prostitusi, kondom bocor, bubar, punah, ya tidak makan. Mereka tidak hoax tidak makan.

Tapi hari ini, kehadiran Jokowi di tengah-tengah rakyat, seperti embun pagi yang membasahi keringnya suasana dan bosannya suasana. Seteguk kenikmatan melihat Jokowi pulang bareng rakyat adalah sebuah hal yang sangat melegakan.

Pulang untuk keluarga, pulang untuk rakyat dan bersama-sama dengan rakyat, membuat Jokowi semakin menyerupai kita. Jokowi adalah kita. Itulah tema yang sedang dibawakan oleh Jokowi hari ini. Pulang naik KRL, adalah sebuah keberanian dari seorang presiden.

Tidak bisa dibayangkan, jika bukan Jokowi, siapa presiden yang berani pulang bersama rakyat? Jokowi sekali lagi melakukan lompatan iman alias leap of faith, untuk terjun bersama-sama dengan rakyat. Menikmati pulang bersama rakyat. Foto bersama, bermain bersama. Bercengkerama. Bercakap-cakap. Saling melempar tawa, energi positif. Sehingga pulang ini menjadi semakin menyenangkan!

Pulang kerja bersama presiden, adalah hal yang paling menyenangkan. Tak bisa dibayangkan bagaimana bahagianya orang-orang yang ada di dalam gerbong itu bergiliran meminta foto, berfoto bersama-sama dengan Presiden.

Bukan berfoto dan selfie ria di istana. Bukan selfie di lapangan upacara. Tapi selfie di tempat keseharian mereka pulang. Pulang bersama Presiden. Menjadi penumpang di sana, adalah sebuah keberuntungan. Mereka bisa berjumpa Presiden di tempat-tempat biasa. Di gerbong kereta rel listrik. Perjalanan dari Jakarta ke Bogor bukannya pendek loh. Jokowi mau mengikuti seluruh etape dan seluruh trayeknya.

Kereta itu tidak spesial dipesan Jokowi untuk tidak berhenti di setiap stasiun. Seperti biasa, bukan KRL yang ikuti jadwal Jokowi. Tapi Jokowi yang ikuti jadwal KRL. Berhenti di setiap stasiun, menunggu beberapa detik untuk terbuka kemudian tertutup.

TAG