Money Politic di Mata Sandiaga Uno

Cawapres dari paslon nomor 2, Sandiaga Uno, kembali membuat pernyataan yang kontroversial, dan kali ini topiknya adalah bagaimana seharusnya rakyat menghadapi Money Politic.

Hal tersebut disampaikan Sandiaga saat dirinya hadir di acara Mata Najwa saat mengusung tema ‘Sandi Sandiaga Uno’ seperti yang diunggah channel YouTube Najwa Shihab, Kamis (28/2/2019).

Mulanya, pembawa acara, Najwa Shihab menanyakan terkait kampanye pilpres menggunakan uang dan apakah juga dianjurkan oleh Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno untuk menerimanya.

“Jadi itu dianjurkan oleh Anda dan Pak Prabowo bahwa terima saja?,” tanya Najwa Shihab.

“Buat masyarakat akan sangat sulit untuk rasional kalau mereka menerima uang,” jawab Sandiaga Uno.

Kembali Najwa Shihab mempertanyakan hal yang sama.

“Pak Prabowo menyampaikan bahwa seandainya kita merasionalisasi untuk menerima bahwa itu uang kita sendiri. Yang dicuri dari rakyat dan dikembalikan lagi kepada rakyat dan untuk karena itu memilih sesuai dengan hati nurani,” ucap Sandiaga Uno.

Pemaparannya itu juga lantas ditanggapi oleh Najwa Shihab.

“Banyak kan kemudian yang menyesalkan bagaimana mungkin capres malah mengajak atau meminta orang untuk mengambil money politic?,” ujar Najwa Shihab.

“Bagi kita, kita sangat rasional, kita sangat pragmatis. Rakyat dibagi-bagi uang secara masif. Terjadi di DKI juga kok,” ucap Sandiaga Uno.

“Dan kalau itu terjadi ambil saja,” timpal Najwa Shihab.

“Ya viralnya seperti itu kok,” kata Sandiaga Uno.

“Berarti iya kalau ada orang kasih uang, money politic, posisi Prabowo-Sandi diambil saja,” tegas Najwa Shihab.

Tampak Najwa Shihab terus menegaskan maksud Sandiaga Uno yang berarti untuk diambil saja uangnya.

“Jadi ambil saja uangnya, ambil saja uangnya,” ungkap Najwa Shihab tampak antusias.

“Cara termudah, ambil saja uangnya. Tapi pilih sesuai hati nurani,” tandas Sandiaga Uno.

Pernyataan Sandiaga Uno tersebut tentunya menimbulkan tanda tanya besar. Bagaimana mungkin seorang calon pemimpin bangsa ini menganjurkan rakyat untuk menerima uang suap dan membiarkan praktek Money Politic tanpa ada tindakan tegas.

Yang diucapkan Sandi itu membawa kembali momen pada saat debat capres pertama pada tanggal 18 Januari 2019 lalu yang membuat pernyataan berikut,

“Kalau kasus itu sudah melalui proses, dia sudah dihukum dan kalau memang hukum mengizinkan, kalau dia masih bisa dan rakyat menghendaki dia karena dia mempunyai kelebihan-kelebihan lain, mungkin korupsinya juga nggak seberapa, mungkin dia…,” kata Prabowo menjawab pernyataan Jokowi soal eks napi koruptor yang jadi caleg Gerindra.

Pada kalimat “mungkin korupsinya juga nggak seberapa” itulah yang menjadi akar permaslaahan, smma seperti pernyataan Sandiaga yang mengatakan “…ambil saja uangnya, tapi pilihnya sesuai hati nurani”.

Sah-sah saja mereka berpikiran seperti itu, dan memang secara logika itu adalah opsi yang paling baikm tetapi tidak secara hukum dan norma serta pembangunan mental SDM.

Terlebih lagi posisi Prabowo dan Sandiaga Uno saat ini adalah menjadi Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden yang sejatinya justru ingin membangun mental masyarakat untuk menganggap hal-hal seperti korupsi dan money politic itu tabu, bukannya malah memaklumi.

Karena kalau mengambil kesimpulan dari pernyataan mereka secara logika, berarti nantinya pejabat boleh korupsi dalam jumlah sedikit asalkan berprestasi, dan rakyat juga seharusnya senang saja saat dikasih uang tetapi tidak usah pilih yang memberi kalau tidak mau, atau memilih yang memberi paling besar.

Bukankah akan menjadi polemik tersendiri kedepannya apabila sikap mental seperti itu yang ingin dibangun oleh Prabowo dan Sandiaga?

Bayangkan apabila pejabat boleh mencuri dari rakyat, menumpuk harta, dan memberikan kembali kepada rakyat dalam bentuk money politic yang jumlahnya jauh lebih kecil dari yang dicuri, selama pejabat tersebut berprestasi.

Kalau begitu untuk apa ada KPK? Untuk apa selama ini rakyat dan pemerintah gembar gembor menyuarakan anti korupsi dan penegakan hukum?

Ditakutkan perjuangan membasmi korupsi selama ini hanya akan menjadi hal yang sia-sia apabila Prabowo dan Sandiaga yang terpilih, meskipun mudah-mudahan tidak demikian kenyataannya siapapun yang berhasil memenangkan pilpres 2019 mendatang.

TAG