Prabowo : Bagaimana Ente Mau Dapat Istri kalau Enggak Punya Pekerjaan

Ini pernyataan paling konyol yang pernah penulis dengar. Entah karena tidak sadar karena terlalu berapi-api atau memang suka keceplosan. Kali ini ucapannya lebih tepat kalau disebut menyindir telak diri sendiri.

Prabowo menyindir cara kampanye Jokoei yang rajin menjanjikan kartu sakti saat kampanye. Salah satu program Jokowi yang disindir Prabowo adalah kartu untuk pekerja. Prabowo menganggap program kartu yang dihembuskan Jokowi belum tentu terlaksana, karena menilai pemerintah tidak memiliki anggaran yang cukup.

“Kalian senang dikasih kartu? Saudara-saudara semua ngapain dibagi lima tujuh sepuluh kartu duitnya enggak ada,” kata Prabowo. Dia mengatakan warga yang belum memiliki pekerjaan lebih pantas disediakan lapangan pekerjaan oleh pemerintah, daripada membagi-bagikan kartu.

“Kalau orang tidak punya pekerjaan, hey yang tidak punya pekerjaan angkat tangan, banyak banget dan saya lihat muda-muda yang enggak punya pekerjaan. Bagaimana ente mau dapat istri kalau enggak punya pekerjaan,” katanya.

“Bagaimana ente mau dapat istri kalau nggak punya pekerjaan, betul?. Pertanyaan pertama calon mertua, ananda kerja dimana, betul enggak bagaimana anda mau jawab, maaf pak saya masih cari pekerjaan,” katanya.

Nah, ini sangat konyol sekali. Apa hubungannya dapat pekerjaan dengan punya istri? Sejak kapan ada rumus yang menyebut kalau ada pekerjaan dijamin dapat istri. Sah saja katakan itu syarat awal meskipun penulis banyak melihat sebaliknya. Buktinya banyak yang sudah sukses tapi belum punya istri. Bahkan ada yang seumur hidupnya tidak punya istri.

Lagian Prabowo kali ini sungguh tidak bercermin. Dia sendiri tidak punya istri. Apakah dia pengangguran. Bahkan kaya, kudanya saja harganya sungguh fantastis. Istri pun tak ada, meski pernah punya tapi sekarang sudah tak masuk hitungan.

Dan lagi-lagi Prabowo bicara soal duit. Duit lagi duit lagi. Dia mengatakan untuk apa dapat kartu kalau duitnya tidak ada. Sama seperti saat debat lalu, di mana dia seolah menyampaikan secara tersirat kalau duit itu sumber solusi nomor satu. Ada masalah, duit solusinya. Calon pemimpin aneh, selalu mendewakan uang untuk menyelesaikan masalah.

Padahal uang kadang bukan solusi, tapi malah menambah masalah. Mengenai kartu untuk pekerja, Prabowo lagi-lagi tak paham kalau tidak mau dibilang bodoh.

Tujuan Jokowi sangat logis, berikan pelatihan agar memiliki skill yang memadai untuk bersaing. Skill ini adalah bekak yang sangat berguna dalam dunia kerja kelak. Skill ini ibarat memberikan alat pancing kepada orang sehingga dia bisa memancing ikan (cari uang) secara mandiri.

Sedangkan Prabowo (yang mungkin merasa sudah pintar) ini malah sibuk bicara duit dan duit. Dia ibarat memberikan uang kepada orang lain. Dan ketika uang habis, lantas mau apa? Minta lagi? Ikan sudah habis tapi dia tidak bisa mencari ikan sendiri karena alat pancingnya tidak ada.

Prabowo mungkin ingin terlihat gagah dengan membicarakan apa yang paling disukai banyak orang; yakni uang. Sebuah cara bodoh untuk mengedukasi masyarakat.

Meski demikian, Prabowo meminta pendukungnya untuk tidak menjelek-jelekan lawannya saat berkampanye. Dia meminta agak kampanye terbuka bisa berlangsung damai dan tidak dipenuhi caci maki. Menurutnya, meski berstatus sebagai lawan tapi Prabowo tetap dekat dengan Jokowi. Dia mengaku tetap hormat kepada Jokowi. Bahkan, Prabowo menyinggung saat dia datang ke acara pelantikan Jokowi sebagai Presiden, padahal kala itu, Prabowo baru saja dikalahkan oleh Jokowi dalam Pilpres 2014 lalu.

Baguslah kalau bisa begitu nanti. Semoga saja strategi pendiskreditan KPU dan pemerintah tidak terjadi. Semoga saja mampu terima kekalahan dengan lapang dada dan tidak rewel merengek teriak curang, curang, curang.

Ada satu hal yang membuat Prabowo kecewa yaitu elit-elit yang berada di sekitar Jokowi yang membuat citra pemerintahan Jokowi kian buruk.

Apakah tidak terbalik tuh? Lihat siapa baik itu individu, partai pendukung dan ormas-ormas pendukungnya. Kalau citra pemerintahan Jokowi dianggap

buruk, maka bisa dipastikan citra Prabowo sudah busuk dikarenakan pendukungnya sendiri beserta kelakuannya yang konyol dan meresahkan. Harusnya sadar siapa yang berada di balik dukungan terhadap Prabowo, bukannya balik menuding dengan spekulasi yang aneh-aneh.

TAG