Ferdinand Hutahaean Rendahkan Kesucian Alquran

Ikatan Dai Aceh mengusulkan tes membaca Alquran bagi capres dan cawapres. Menanggapi usulan ini, anggota Direktorat Hukum dan Advokasi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Ferdinand Hutahaean, mengaku tak perlu diadakannya tes uji baca Alquran.

Menurutnya, Indonesia sebagai bangsa yang terdiri dari berbagai agama dan suku membutuhkan pemimpin yang majemuk, bukan yang pandai membaca Alquran.

“Untuk bangsa ini yang besar, hal-hal itu (tes membaca Alquran) tidak perlu dilakukan karena kita mencari pemimpin yang memimpin kemajemukan, yang dapat membawa Indonesia sejahtera ekonominya, rakyatnya adil dan makmur,” jelas Ferdinand saat dihubungi kumparan, Sabtu (29/12) malam.

“Jadi bukan mencari pemimpin yang bisa membaca Alquran, salat, atau apa ya. Tapi mencari pemimpin yang bisa menjadikan bangsa berdaulat penuh,” imbuh politikus Partai Demokrat itu.

Ikatan Dai Aceh menganggap perlu adanya tes membaca Alquran untuk mengakhiri polemik politik identitas dan siapa calon yang pantas maju dan dipilih sesuai dengan kriteria pemimpin Islam dalam Pilpres 2019.

“Mengingat akhir-akhir ini kampanye saling menghujat atas kemampuan dasar beragama Islam lebih mengemuka ketimbang menonjolkan kampanye programatik untuk menarik pemilih,” kata Ketua Ikatan Dai Aceh, Tgk Marsyuddin Ishaq, dalam keterangannya kepada kumparan Sabtu (29/12).

Tes uji kemampuan baca Alquran itu rencananya bakal diselenggarakan di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh pada 15 Januari 2019 mendatang. Ikatan Dai Aceh akan segera membentuk panitia pelaksana dan tim uji kemampuan baca Alquran yang akan diisi oleh para ulama sepuh Aceh.

Sebelumnya Ferdinand juga pernah menyampaikan cuitan melalui akun twitternya:

“Test DNA itu akan membuktikan kebenaran, sementara test baca Quran akan membuktikan kemampuan membaca bahasa Arab. Bagi saya, jauh lebih penting kebenaran daripada kemampuan. Kejujuran dekat dengan kebenaran, sementara kemampuan bisa saja mampu berbohong bertahun-tahun.” (31/12/2018, 19:57)

Cuitan Ferdinand itu berawal dari kekesalannya atas adanya usul dari Ikatan Dai Aceh untuk mengadakan tes baca Alquran bagi calon presiden dan wakil presiden pada 15 Januari nanti. Tidak mampunya Prabowo, capres yang saat ini ia dukung membaca Alquran, membuatnya dan seluruh pendukung kelabakan membela capresnya itu.

Sebelumnya Ferdinand beralasan bahwa tes baca Alquran itu tidak perlu diadakan sebab Indonesia terdiri dari berbagai suku dan agama. Ia berkilah bahwa Indonesia tidak membutuhkan pemimpin yang pandai membaca Alquran tetapi pemimpin yang majemuk yang mampu menyejahterakan rakyat.

Ferdinand pura-pura lupa bahwa pada Pilkada DKI Jakarta lalu, betapa isu agama begitu gencar dimainkan oleh kubunya. Ahok diserang tanpa henti. Ia disebut tidak pantas memimpin Jakarta yang berpenduduk mayoritas Islam, hanya karena Ahok beragama Kristen. Lah, sekarang kenapa mereka seakan begitu paranoid dengan isu agama tersebut?

Karena Prabowo sudah tersudut. Ia kerap melakukan blunder atas ketidaktahuannya tentang ajaran agama Islam yang konon sejak tahun 1980-an telah ia anut. Lantas seluruh tim tiba-tiba nampak sangat nasionalis. Mereka membangun narasi baru bahwa tidak baik memainkan isu SARA, tidak baik mempolitisasi agama, sebab Indonesia sangat majemuk.

Dengan segala kegoblokannya, Ferdinand lalu mencoba mengalihkan isu menuntut agar Jokowi segera melakukan tes DNA untuk membuktikan apakah ia seorang PKI atau tidak. Untuk hal yang satu ini, sepertinya tidak perlu dibahas. Sebab tuntutan Ferdinand itu adalah sebuah tuntutan tidak waras. Sejak kapan seseorang bisa dibuktikan PKI atau tidak hanya dengan melakukan tes DNA? Lucu sekali anda ini!

Sementara tes membaca Alquran, memberi banyak manfaat. Selain rakyat akan semakin tahu kualitas kerohanian calon presidennya, rakyat juga akan disadarkan, siapa sebenarnya yang selama ini berpolitik hanya bertopengkan dan jualan agama dan siapa yang benar-benar menjadikan agama sebagai penuntun dalam kegiatan politiknya.

Namun Ferdinand justru menganggap bahwa kemampuan membaca Alquran hanya akan membuktikan bahwa seseorang itu mampu membaca bahasa Arab saja. Ia tidak menganggapnya sebagai sebuah kebenaran. Tetapi hanya sebatas kemampuan yang bisa saja ada kebohongan di dalamnya.

Mampu berbahasa Arab, bukan berarti akan mampu juga membaca Alquran. Itu dua hal yang sangat berbeda. Ada banyak para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab sana fasih berbahasa Arab, namun mereka tidak mampu membaca Alquran. Pun sebaliknya, ada umat Muslim yang fasih membaca Alquran, tetapi tidak mampu berbahasa Arab.

Membaca Alquran bukanlah hanya sekedar membaca, tetapi juga harus dipahami dan diamalkan. Alquran adalah pedoman bagi umat muslim baik untuk urusan duniawi maupun untuk urusan akhirat. Alquran memuat firman Allah. Dan firman Allah itu adalah kebenaran. Lalu kenapa Ferdinand menganggapnya hanya sebatas kemampuan saja?

TAG