Mimpi Titiek Soeharto Menjadi Ibu Negara

Sadarkah pembaca kalau kisah relationship antara Prabowo dan Titiek Soeharto selalu mencuat tiap kali memasuki tahun politik? Artinya, kisah mereka ini kayak buah durian yang sifatnya musiman, ada jika waktunya tiba.

Sebelumnya, dalam kampanye terbuka Prabowo-Sandi, Titiek memang tidak secara gamblang berbicara tentang posisi sebagai ibu negara jika Prabowo menang. Yang jelas, Titiek kala itu merasakan aura kemenangan Prabowo. “Kita ke TPS jihad pakai paku-paku untuk mencoblos, tidak perlu jihad pakai bom. Awasi juga TPS. Jika Prabowo menang, Ibu Titiek jadi ibu negara itu urusan belakangan,” kata Titiek.

Sebenarnya Titiek terlihat ambisius dan kepingin juga ikut berkuasa. Kalau mendengar dari perkataannya, sepertinya dia membuka peluang untuk rujuk kembali dengan Prabowo. Tidak masalah sih, karena ini masalah privasi. Tapi ini jelas membuktikan kalau kisah mereka selalu memanfaatkan kepentingan politik. Dua-duanya sangat ambisius dan sangat ingin berkuasa.

Titiek Soeharto yang menyinggung posisinya sebagai ibu negara jika capres Prabowo Subianto menang pada Pilpres 2019, mengundang reaksi Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

“Menarik sekali Mbak Titiek Soeharto bicara soal jadi ibu negara Prabowo jika menang Pilpres 2019. Publik lalu bertanya, jika kalah? Nggak jadi baikan/rujuk dong,” kata influencer TKN Jokowi-Ma’ruf, Tiurmaida Tampubolon.

Tiur mengatakan hakikat dari istri/pendamping hidup suami ialah harus mendampingi dengan setia dalam suka dan duka. Dia berharap Titiek bisa mendampingi Prabowo apa pun hasil Pilpres 2019.

“Artinya adalah mulia bila Mbak Titiek bersedia mendampingi, menjalani, kompleksnya kehidupan saat nanti Pak Prabowo menang maupun kalah. Jangan pas (Prabowo) menang jadi presiden baru (Titiek) mau menjadi pendamping/ibu negara karena pada dasarnya Mbak Titiek dan Pak Prabowo adalah pasangan serasi sebelum berpisah,” kata dia.

“Jadi lebih baik mereka bersatu bukan karena akan mendapat kekuasaan/menang pilpres, tapi karena dilandasi cinta kasih yang kuat dalam suka dan duka seperti Ibu Iriana dan Pak Jokowi, yang terus memelihara cinta kasih dalam suka-duka,” kata Tiur.

Kisah cinta musiman antara Prabowo dan Titiek sebenarnya sudah cukup konyol. Masa urusan rujuk atau tidak harus tergantung situasi politik? Lucu sekali kalau masalah ini digembar-gemborkan dan diumbar ke publik. Kalau Prabowo menang, peluang rujuk akan dipertimbangkan, kalau kalah, kisah cinta pun lenyap seperti yang terjadi pasca pilpres tahun 2014.

Sungguh wanita yang penuh perhitungan dan ada udang di balik batu. Terkesan menumpang tenar demi ambisi entah apa pun itu.

CLBK, Cinta Lama Bersemi Kembali tapi ada tanda * yang artinya Syarat dan Ketentuan berlaku. Harus menang pilpres dulu baru bisa terjadi?

Mirip-mirip dengan Prabowo yang ketahuan menguasai lahan sekian ratus hektar, dan akan mengembalikan lahan tersebut. Sangat patriot dan nasionalis bukan? Hahaha, tapi harus jadi presiden dulu.

Mau pulangkan Rizieq, tunggu dia jadi presiden dulu.

Semua masalah bisa kelar kalau dia jadi presiden. Ini jadi presiden untuk membangun negeri atau untuk kepentingan lain? Soal rujuk, lebih mirip drama yang dibuat untuk menimbulkan rasa penasaran sehingga rating drama tersebut naik. Ini memakai hitung-hitungan untung rugi dalam politik. Benar seperti yang dikatakan kubu Jokowi tadi, pasangan yang baik itu siap menemani dalam suka maupun duka, saat menang dan berada di puncak atau saat terpuruk. Bukan suka saat menang tapi menjauh saat kalah.

Kalau begini caranya, makin yakin pilih Jokowi yang tidak banyak drama dan settingan aneh. Untuk urusan rujuk atau tidak saja harus pakai hitungan untung rugi politik. Urusan rumah tangga dijadikan mainan politik. Ini baru soal rumah tangga lho, bagaimana dengan urusan negara yang jauh lebih besar dan kompleks?

Kalau memang serius ya rujuk saja tidak peduli sedang pilpres atau tidak. Mungkin kalau berani, elektabilitas mereka akan naik sedikit. Tapi kalau ada syarat dan ketentuan berlaku seperti di atas, jadi konyol. Malah tidak dapat simpati. Negara tidak butuh drama dan settingan. Kalau mau begitu, lebih baik jadi artis saja, bebas bikin sensasi segila apa pun.

TAG